
Tulisan ini sekilas mengambarkan potret pemuda dalam berbagai momentum perjalan bangsa. Bahwa pemuda sebagai asset bangsa tidak dapat dinafikan kiprahnya dalam menciptakan sejarah bangsa Indonesia. Kemudian, Dalam kontek kekinian, yakni dalam era globalisasi dan era otonomi daerah saat ini, menjadi sebuah kegelisahan akan posisi pemuda dalam memainkan peranannya. Inilah yang hendak penulis ungkapkan dalam tulisan ini.
Sejarah telah mencatat bahwa perjalan bangsa ini tak terlepas dari sepak terjang pemuda. Ini membuktikan bahwa pemuda memiliki kekuatan. Persoalan yang kemudian muncul adalah, apakah kekuatan pemuda tersebut masih dimilikinya sampai saat ini?. Mari kita renungi secara seksama.
Perjalan bangsa dapat kita bagi dalam beberapa fase yaitu: Pertama, fase perjuangan kemerdekaan. Kedua, fase mempertahankan kemerdekaan atau fase orde lama, Ketiga, fase Orde Baru. Dan keempat, adalah fase Reformasi. Dalam setiap fase tersebut, pemuda tidak pernah absent dalam memainkan perananya dalam berbagai dinamika bangsa. Kekuatan pemuda dalam rangka turut serta melakukan perubahan mendasar bangsa ini adalah terletak pada semangat pemuda yang tidak pernah putus asa dalam dinamika pergerakan, perjuangan dan karya dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, social,budaya dan sebagainya.
10 tahun sudah pasca reformasi berjalan. Gejala pudarnya semangat pemuda sudah mulai terlihat. Dulunya pemuda merupakan elemen bangsa yang kuat dan diperhitungkan dalam setiap momentum-momentum, sekarang terasa menurun. Tak tahu kenapa sebabnya mari kita refleksikan bersama.
Persoalan ini jualah yang membuat penulis gelisah dan risih. Sehingga penulis merasa perlu melakukan refleksi, evaluasi serta mengungkapkan realitas pemuda dalam kontek kekinian. Tentunya dengan analisa kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang akan dihadapi.
Dalam konteks kekinian, kita dihadapkan dengan berbagai fenomena dan pengaruh dari globalisasi. Suka maupun tidak suka, globalisasi adalah bagian dari tatanan kehidupan. Maka kemudian dimana posisi dan peranan pemuda dalam kontek ini, sehingga semangat pemuda kembali bangkit dan menjadi kekuatan yang dapat merubah negara ini sebagai mana yang telah dicita-citakan oleh pendiri (funding-father) negara tercinta ini.
Namun demikian, persoalan bangsa kita semakin pelik telah kita rasakan, semua struktur tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara telah mulai kembali mengalami krisis, mulai dari ekonomi, social, budaya, politik, hokum pendidikan, agama dan sebagainya. Misalnya ekonomi, harga sembako yang mulai tidak terjangkau, kenaikan BBM dan lemahnya usaha-usaha kerakyatan. Kemudian urusan sosial, maraknya kriminalitas, narkoba dan kemiskinan. Urusan budaya, menurunya semangat kebersamaan bangsa serta egisme kesukuan yang tinggi sehingga mengancam plurlisme budaya.
Selanjutnya Politik, perilaku elit politik yang tidak mencerminkan dirinya sebagai representasi rakyat, yang cendrung melupakan kepentingan rakyat juga mulai kita rasakan. Dan yang tak kalah penting adalah persoalan pendidikan yang cendrung bercorak kapitalisme, mahalnya biaya pendidikan baik di sekolah negeri maupun swasta mengakibatkan pendidikan hanya dapat dicipi oleh orang yarduait saja. Bgitujuga dengan fenomena angka buta aksara yang masih banyak.
Inilah sekilas potret bangsa kita sekarang. Pertannya selanjutnya adalah Dimana peranan Pemuda? Apa yang harus dilakukan oleh pemuda?. Hemat penulis ada beberapa pilar penting terkait peranan signifikan pemuda dalam mencarikan solusi atas persoalan bangsa dalam kontek kekinian ini.
Pertama, membangun paradigma dan orientasi pemuda dalam kontek kekinian. Paradigma pemuda dalam kontek kekinian adalah bagaimana pemuda sebagai elemen bangsa yang kuat ini dapat menselaraskan dirinya sebagai garda depan untuk setiap urusan-urusan kebangsaan. Pemuda juga tentunya harus berani tampil didepan untuk penyelesaian segala problem kemasyrakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Modal utama pemuda adalah semangat. Artinya semangat pemuda harus dikongkritkan untuk tujuan-tujuan strategis dan jangka panjang bukan untuk tujuan pragmatis unsich. Sebab, dinamika pemuda adalah sangat panjang.
Pemuda harus memahami dan lebih mengutamakan pada proses-proses pembelajaran, mau dan mampu mengikuti dan menghargai sebuah perjalanan panjang, sebagai kata kunci untuk menunjukkan bahwa pemuda memberikan peran bagi bangsa ini.
Kemudian orientasi pemuda, dalam hal ini penulis hendak menyampaikan bahwa pemuda perlu memiliki People Oriented (social masyarakat) bukan orientasi ekonomi semata (uang). Orientasi Sosial kemasyarakatan merupakan tanggungjawab moral pemuda dimana pemuda mengambil peran sebagai dalam setiap penyelesaian persoalan-persoalan realisitis yang dihadapi oleh masyarakat dengan tanpa pamrih.
Kedua, pembangunan karakter pemuda (youth mindset building). Pergeseran paradigma pemuda terjadi tatkala pemuda dihadapkan pada realitas hidup yang menuntut berbagai pemenuhan secara materiil, merupakan kondisi yang dapat mempengaruhi terhadap pembentukan karakter pemuda itu sendiri. Bahwa material hanyalah sebuah alat dan bukan tujuan, sebuah pemaknaan yang harus lebih ditanamkan, kadangkala kekurang arifan dalam memahami hal tersebut mampu menggeser arah sebuah perjuangan mulia.
Ketiga, peranan organisasi kepemudaan. Dalam kontek ini organisasi kepemudaan yang plural terdapat ambivalensi (benturan) antara kepentingan pemuda secara kolektif dengan kepentingan pemuda secara individu. Ketika pemuda sudah bergabung dalam organisasi kepemudaan tujuan-tujuan pragmatis sangat kental dibanding dengan tujuan-tujuan strategis yang sejatinya. Fenomena ini mulai terlihat ketika melemahnya soliditas dan semangat kebersamaan pemuda ketika diajak untuk tampil melakukan perubahan mendasar baik dalam mengkritik kebijakan maupun memberikan peran intelktualnya kepada masyarakat.
Keempat, dukungan pemerintah dalam meningkatkan peran pemuda dalam mengisi pembangunan. Pemerintah seyogyanya secara berkelanjutan merangsang pemuda untuk berkarya, sehingga pembangunan yang menjadi tugas pokok pemerintah dapat terbantu. Kemudian yang tak kalah penting adalah transformasi kepemimpinan juga perlu dilakukan oleh pemerintah. Sebab Ini menjadi sangat penting jika pemuda diharapkan akan menggantikan estafet kepemimpinan baik dalam kontek nasional, regional maupun lokal.
Krisis kepemimpinan dapat terjadi ketika proses penciptaan kepemimpinan itu tidak dilakukan. Begitu juga karakter pemuda yang dinamis tidak akan terbentuk ketika momentum-momentum yang memberikan peluang pemuda itu untuk berkarakter tidak diciptakan.
Dalam tataran masalah regional, Pemeritah Provinsi Kepulauan Riau yang sedang menyongsong dilaksanakannya Undang Undang Free Trade Zone (UU FTZ) di Batam – Bintan dan Karimun menuntut peran pemudanya untuk berbuat sesuatu yang nyata. Karena tanpa sebuah karya nyata, maka sulit untuk diharapkan kalangan pemuda dapat bersaing mengisi peluang-peluang yang timbul oleh akibat diterapkannya UU FTZ BBK.
Akhirnya, penulis berharap bahwa paradigma dan orientasi pemuda dalam kontek kekinian sudah saatnya ditumbuh-kembangkan dalam ruang dan waktu kapanpun oleh siapapun. Dengan sebuah tujuan demi menjawab tantangan, peluang dan kendala-kendala pelik yang sedang dihadapi bangsa ini. Era globalisasi dan era otonomi mengharuskan pemuda untuk segera mengambil peran dan posisi.
Peran dan posisi pemuda sangat ditentukan oleh pemuda itu sendiri dengan sebuah karya nyata, adanya rasa memiliki serta kepedulian terhadap segala sesuatu yang tengah berlangsung di tengah masyarakat.
Ketika kita sepakat untuk tidak mau menjadi penonton di negeri sendiri, maka dorongan keinginan tersebut merupakan stimulan bagi upaya bagaimana menciptakan pemuda yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk secara terus-menerus meningkatkan kualitas dirinya sehingga menjadi pemuda yang berkarakter kuat dan berdaya saing.
